Mengapa Sesaji Selalu Ada Bunga? Menyingkap Filosofi Mendalam di Balik Tradisi Kejawen

Posted on

Kejawen adalah kata bentukan yang berasal dari kata ke-jawi-an dengan keluwesan lidah orang jawa diucapkan Kejawen. Kejawen hakikatnya adalah suatu tata cara atau aturan di dalam berkehidupan, baik kepada sesama manusia, alam, para leluhur, dan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaan Kejawen sudah ada sejak orang Jawa mulai ada. Para pengikut Kejawen dianggap “waskito” atau memiliki kelebihan bukan karena mereka melakukan persembahan kepada berhala tapi karena mereka menjaga hati agar tetap bersih sehingga apa yang menjadi rahasia langit dan bumi terbuka karena izin Tuhan. Tingkatan itu dinamakan “manunggaling kawulo Gusti” yang mana jika diartikan dengan luas adalah sebuah keyakinan akan keesaan Tuhan sehingga tidak akan pernah memiliki rasa khawatir dan rasa takut. Yang ditakutkan hanyalah jika perbuatannya membuat Tuhan murka.

Pada masa sekarang ini banyak orang menilai ajaran Jawa melenceng, karena ajaran Kejawen identik dengan sesaji serta ritual-ritual yang dinilai sudah tidak kompatibel dengan perkembangan zaman. Padahal, Kejawen sejati tidak mengajarkan ilmu hitam yang digunakan untuk membuat orang lain menderita.

Makna Sesaji

Sesaji bisa diartikan sebagai sajian, sebuah penghormatan. Analoginya adalah, layaknya seorang tamu yang datang, tentunya akan diberikan sajian terbaik, dan hal tersebut adalah bentuk penghormatan kepada tamu yang mengunjungi rumah kita. Seperti kita ketahui, sebagian orang beragama meyakini bahwa pada malam Jumat ruh-ruh orang yang telah meninggal akan datang untuk melihat keluarga mereka, kita yang masih hidup alangkah baiknya mendoakan mereka yang telah mendahului kita. Didasari itulah masyarakat Kejawen pada malam Jumat kemudian menyiapkan sesaji sebagai wujud penghormatan kepada para leluhur dan pendahulu di samping mereka juga berdoa menurut agama serta keyakinan masing-masing.

Filosofi Sesaji Bunga

Bunga melambangkan keharuman. Harum sendiri bermakna bahwa segala tujuan hidup kita mendapat berkah dari para leluhur.

Bunga Kantil. Dimaknai sebagai pepeling atau pengingat bahwa meraih ngelmu iku kalakone kanthi laku. Artinya, untuk menggapai sesuatu tidak cukup dengan berdoa saja, melainkan harus dengan tindakan nyata.

Bunga Kantil (Sumber Gambar: nurserylive.com)

Bunga Melati. Melati berwarna putih, melambangkan kebersihan. Maknanya adalah, orang hidup harus mengedepankan kebersihan hati atau kejujuran, bukan menjadi orang yang munafik.

Bunga Melati (Sumber Gambar: disdikpora.bulelengkab.go.id)

Bunga Mawar. Bermakna kiasan awar-awar ben tawar yang artinya kurang lebih, menetralkan hati agar menjalani segala sesuatu dengan ikhlas atau tanpa pamrih.

Bunga Mawar (Sumber Gambar: almuhtada.org)

Bunga Kenanga. Bermakna agar kita mengenang kebaikan para pendahulu agar kita selamat di dunia dan akhirat.

Bunga Kenanga (Sumber Gambar: www.alodokter.com)

Di atas merupakan bunga yang dipakai sebagai sesaji. Tidak hanya itu saja, penggunaan bunga-bunga tersebut juga merupakan pengingat agar makna yang terkandung dalam bunga tersebut diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan konsep “eling lan waspodo”, ingat kepada Tuhan dan para leluhur, serta waspada atau lebih berhati-hati akan segala tindak-tanduk agar tidak menyakiti makhluk Tuhan.

Sumber: Buku “Kisah Tanah Jawa”