Napas Tiang Pancang

Posted on

Buat teman-teman yang penasaran dengan maksud dari judul tulisan ini, silahkan baca hingga selesai ya.

Napas Tiang Pancang, mungkin bisa disederhanakan artinya sebagai penumbalan untuk sebuah bangunan. Diyakini hingga saat ini masih dilakukan ritual seperti ini. Percaya atau tidak? itu terserah Anda.

Pada tulisan ini saya akan berbagi kisah atau menceritakan kembali terkait bangunan yang konon katanya ada penumbalan dalam pembangunan sebuah bangunan.

Djokdja Toegoe

Stasiun Tugu mulai dibangun tahun 1885 dan resmi beroperasi pada tanggal 2 Mei 1887. Stasiun Tugu memiliki gaya arsitektur Indische Empire yang banyak dianut pada akhir abad ke-19 dan menjadi gaya arsitektur kolonial modern pada awal abad ke-20 di Hindia Belanda.

Misteri di Balik Stasiun Tugu

Ketika Stasiun Tugu hendak dibangun, kawasan itu masih banyak ditumbuhi pohon beringin. Di depan pintu masuk ada sebuah pohon beringin besar yang susah ditumbangkan. Warga sekitar menyebutnya dengan pohon beringin Nyai Giri Kencono, sosok penguasa gaib yang digambarkan dengan wujud berkepala manusia, tapi bertubuh macan.

Awal pembangunan, kepala kerbau ditanam pada sebuah upacara simbolik. Namun, ada hal lain yang mengerikan yakni, kepala manusia dan jari yang ditanam di bawah bangunan. Kala itu, tiga orang pekerja (buruh bangunan) yang “dipilih” menjadi tumbal mendadak mengalami sakit parah dan kecelakaan kerja hingga meninggal. Maksud kata “dipilih” di sini adalah dipilih oleh lelembut yang meminta tumbal nyawa.

Miturut cerita, prosesi ritual dilakukan secara bertahap. Berikut kronologi yang diceritakan dari buku yang saya baca.

18 Februari 1886: mendadak seorang buruh bangunan jatuh saat memasang tembok. Ketika jatuh kepalanya membentur bahan material yang ada di bawah dan tewas saat itu juga. Salah seorang mandor (orang Jawa) yang “tahu” dan mendapat tugas melakukan ritual langsung membawa pekerja itu ke sebuah ruangan untuk melakukan prosesi. Lehernya diputus menggunakan kapak, kepala dimasukkan dalam kain hitam ditaruh di atas baki bambu lengkap dengan bunga-bunga ubo rampe. Setelah proses selesai, benda-benda dan kepala tersebut ditanam di bawah tegel pintu masuk (pintu dalam atau bangunan yang lama).

23 Maret 1886: ada pekerjaan lembur, mendadak seorang pekerja kesurupan. Dia berlari-lari dan loncat-loncat seperti kerasukan siluman kera. Pekerja lain mencoba membantu dan mengejar, tapi dia terus berlari sampai di sebuah lokasi (kalau saat ini peron selatan) buruh bangunan tersebut berhenti, dia mengambil golok, lalu memenggal kepalanya sendiri dengan sekuat tenaga. Seketika itu juga kepalanya terputus lalu jatuh masuk ke lubang galian yang akan dibuat pondasi di salah satu sudut bangunan. Untuk proses kepala yang kedua, kepala ditanam tanpa dibungkus kain sedangkan badannya dibungkus kain hitam kemudian dikubur berdekatan tapi sebelumnya diguyur dengan darah ayam cemani atau ayam hitam.

07 April 1886: kronologinya waktu itu ada masinis sedang mencoba lokomatif untuk mengangkut material bangunan. Lokomotif berjalan mundur, kebetulan ada buruh bangunan yang sedang memperbaiki rel. Nahas kepalanya terpenggal roda lokomotif di peron utara. Kepala tadi kemudian dibungkus kain merah sedangkan badan dibungkus dengan kain kuning. Kepala ditanam di ruang dalam, dan badan dikuburkan di peron utara jalur satu (kalau sekarang menjadi jalur 4).

Cerita di atas, adalah salah satu misteri yang berkaitan dengan penumbalan dalam sebuah bangunan. Masih banyak cerita serupa dengan penumbalan seperti pembangunan pilar jembatan kereta api yang meminta tumbal satu grup lengger (tayub), penari ronggeng cantik yang diperistri makhluk gaib sebagai syarat kelancaran dalam pembangunan terowongan kereta api, dan masih banyak lainnya.

Sumber: Buku “Kisah Tanah Jawa“