Sejarah Pembangunan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) oleh Herman Willem Daendels

Posted on

Dengan dibubarkannya VOC, terjadilah perubahan politik pemerintahan di Nusantara. Kepulauan Indonesia yang dikuasai VOC, berganti diperintah dan dijajah oleh pemerintah Belanda. Untuk menjalankan pemerintahan kolonial, diangkatlah seorang gubernur jenderal. Gubernur jenderal ini berkuasa atas nama pemerintah di negeri Belanda.

Salah satu gubernur jenderal yang terkenal adalah Herman Willem Daendels. Daendels kemudian melakukan banyak terobosan yang jelas banyak merugikan rakyat pribumi. Diantaranya adalah pemungutan pajak yang tinggi, penanaman tanaman yang hasilnya laku di pasaran dunia, dan beberapa terobosan lainnya.

Pemerintahan Daendels telah menyebabkan banyak kesengsaraan rakyat. Kesewenang-wenangan Daendels dan penderitaan rakyat itu telah menimbulkan protes dan perlawanan rakyat, sampai akhirnya berita itu didengar oleh pemerintah pusat di negeri Belanda. Daendels pun dipanggil pulang kembali ke Belanda dengan meninggalkan berapa peninggalan vital seperti Jalur Pos Anyer-Panarukan, Benteng Lodewijck di Surabaya, sekolah militer di Batavia, dan pabrik meriam di Semarang.

De Grote Postweg

De Grote Postweg merupakan pembangunan yang digagas oleh Daendels dan sebuah terobosan yang tidak lekang oleh waktu, meskipun gagasan tersebut menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit bagi rakyat Jawa. Hingga hari ini jalur De Grote Postweg masih digunakan dan merupakan jalur vital wilayah Pantai Utara Jawa yang menghubungkan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Hari ini, De Grote Postweg dikenal dengan nama jalur Anyer-Panarukan atau jalur Deandels. Pembangunan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) bertujuan untuk memperlancar komunikasi antar daerah di sepanjang Pulau Jawa serta sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara dari serangan Pasukan Inggris.

Jalan Raya Pos memiliki panjang total sekitar 1000 km yang membelah Jawa, diselesaikan dalam waktu 1 tahun. Jalur ini selesai dikerjakan dengan keadaan sempurna sekitar dua tahun (1 tahun baru proses membuka lahan, tapi sudah bisa dilewati). Pembangunan jalur dimulai dari arah barat menuju timur, didasari arah terbit matahari sebagai patokan arah mata angin untuk mempermudah pekerjaan.

Pembangunan jalur Daendels ini membutuhkan banyak korban. Jika sejarah mencatat sekitar 25 ribu korban jiwa. Namun menurut dari penulis buku Kisah Tanah Jawa, memperkirakan estimasi korban mencapai 100 ribuan nyawa melayang, terutama diakibatkan oleh penyakit malaria serta perlakuan kejam Daendels beserta tentaranya yang asal tebas kepala ketika para pekerja paksa tampak letih dan mulai sakit-sakitan. Namun, tidak semua wilayah terkena kerja paksa, hal tersebut tergantung negosiasi dengan pihak penguasa lokal yang dilewati proyek itu. Ada beberapa wilayah yang para pekerjanya digaji, tapi sama saja karena Daendels menyediakan hiburan seperti prostitusi dengan pajak tinggi. Alhasil keuntungan kembali ke pihak Belanda.

Gambar Ilustrasi

Di jalur ini juga didirikan bangunan pos setinggi 5-7 meter yang terbuat dari batang pohon kelapa. Fungsi pos ini yaitu untuk mengamati keadaan sekitar, jika pada jalur Pantura terlihat pergerakan pasukan Inggris, maka informasi bisa segera dilaporkan ke pos berikutnya sehingga info cepat sampai menuju Batavia. Jarak dari satu pos ke pos lainnya sekitar 4,5 km.

Selain untuk manfaat militer, jalur pos juga sangat berguna di sisi ekonomi. Sebagai contoh, produk-produk dari pedalaman semakin banyak dapat diangkut menuju pelabuhan sehingga produk-produk ini tidak membusuk di gudang-gudang setempat.

Daendels memiliki karakter yang keras serta temperamental, apa yang dia inginkan harus bisa dilaksanakan, bagaimana pun caranya. Untuk membangun proyek ini, Daendels mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal yang dilewati proyek ini untuk memobilisasi rakyatnya, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer selesai dalam beberapa hari. Jika priyayi atau penguasa pribumi gagal mengerjakan proyek tersebut, mereka semua akan dibunuh. Bahkan, kepala mereka digantung di pohon-pohon di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jenderal Daendels memang menakutkan, kejam, sadis, dan tak kenal ampun.

Daendels banyak mengambil (lebih tepatnya menjarah) peninggalan-peninggalan masa Mataram Kuno yang berada di candi-candi, berupa emas dan permata. Selain itu, Daendels suka menebas kepala arca-arca candi dengan pedangnya.

Gambar Ilustrasi

Daendels juga percaya akan hal-hal mistis yang ada di Pulau Jawa sehingga dia mempekerjakan dukun-dukun lokal yang membuat dia berani dan tidak takut kepada siapa pun, baik hal gaib maupun kaum bangsawan yang pada waktu itu rata-rata memiliki ilmu kanuragan. Ada 7 dukun lokal yang Daendels pekerjakan, salah satunya yang diketahui bernama Mat Bongkok (bukan nama asli). Dia berasal dari wilayah Jawa Barat. Postur tubuhnya bungkuk dan membawa tongkat serta jalannya tertatih-tatih.

Kesaktian Mat Bongkok cukup bisa diandalkan oleh Daendels. Dia bisa memerintah hewan, seperti nyamuk. Nyamuk saat itu menjadi momok besar bagi penghuni Pulau Jawa terutama orang Barat karena penyebab utama penyakit malaria. Oleh Mat Bongkok, koloni nyamuk dipindahkan begitu saja dengan gerakan tangan menuju tempat yang jauh. Tidak hanya itu saja, ular serta hewan-hewan buas lain juga sanggup dia pindahkan.

Gambar Ilustrasi

Daendels dipanggil pulang dan kekuasaan diserahkan kepada Jan Willem Janssens. Banyak pejabat yang tidak suka dengan aturan yang diterapkan Daendels. Mereka membuat laporan bahwa Daendels memperkaya diri sendiri dan memberlakukan kerja rodi dalam pembangunan Jalan Anyer-Panarukan. Daendels sendiri melaporkan langsung ke Perancis, sehingga bukti-bukti aktivitasnya banyak tersimpan di Perancis. Sedangkan di Belanda, banyak informasi yang menyudutkannya, sehingga dia dianggap sebagai biang penyakit.

Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa Daendels pulang karena ada hubungan dengan rencana penyerangan ke Rusia. Napoleon memerlukan seorang jenderal yang andal dan pilihannya jatuh kepada Daendels.

Pasca Napoleon dikalahkan di Waterloo, dan Belanda kembali menjadi negara bebas, Daendels menawarkan diri berbakti kepada Raja Willem I. Sayangnya raja diliputi ketakutan bahwa Daendels akan menjadi pemimpin oposisi yang membahayakan istana, karena track record-nya menjadi pemimpin kelompok patriot yang revolusioner. Tahun 1815, akhirnya pemerintah Belanda menunjuknya sebagai gubernur jenderal koloni Belanda di Gold Coast, Afrika. Daendels melihat peluang bahwa penunjukannya sebagai Gubernur Jenderal Gold Coast merupakan kesempatan untuk membangun monopoli bisnis pribadi. Akan tetapi sebelum rencananya terlaksana, Daendels meninggal akibat penyakit malaria. Dia meninggal di Elmina Castle (St. George d’Elmina) pada 2 Mei 1818 di usia 55 tahun.

Diakhir hidupnya, diketahui Daendels mengalami depresi karena berbagai hal, salah satu penyebabnya penyakit malaria. Karena dia sosok pemberani tapi merasa tidak berdaya karena sakit, dia pun merasa frustasi, lalu bunuh diri.

Sumber: Buku “Kisah Tanah Jawa”