Halo sobat pembaca Aprinala, saya ucapkan terima kasih sudah berkunjung kemari.
Pada tulisan kali ini, Aprinala akan berbagi cerita misteri tentang Penglaris.
Apa itu Penglaris?
Penglaris adalah istilah yang sering kita dengar dalam dunia usaha, terutama di Indonesia. Penglaris mulai marak sejak di era kolonial. Tujuan dari penglaris supaya menarik lebih banyak pelanggan, atau membuat usaha menjadi lebih laris. Praktik ini sering dikaitkan dengan kepercayaan spiritual atau mistis, seperti jimat, mantra, atau bantuan dari orang pintar.
Kafan Sumber Kenikmatan Pada Makanan
Kafan sebuah kain yang digunakan untuk membungkus jenazah sebelum dimakamkan. Pada agama Islam, kain kafan menjadi bagian penting dari proses pemakaman.
Jenazah yang sudah dikafani dan disholatkan, kemudian diberangkatkan ke pemakaman untuk dimakamkan. Ada cerita horor pada tradisi ini, apabila jenazah yang meninggal tidak wajar atau ada urusan duniawi yang belum selesai, maka akan bergentayangan dengan wujud hantu pocong.
Meskipun hantu pocong ini dikenal sebagai hantu yang menyeramkan menurut masyarakat Indonesia, tetapi ada orang-orang tertentu yang memanfaatkannya sebagai alat untuk penglaris diusahanya terutama dibidang kuliner. Isu tentang penglaris air liur dan ludah pocong mungkin sudah menjadi obrolan masyarakat. Penglaris pocong ini masuk ke golongan jenis penglaris menengah ke atas.
Menurut sumber dari yang saya baca, para pelaku penglaris pocong akan diminta berdiam diri di sebuah kuburan dengan membaca mantra yang telah diberikan oleh dukun. Untuk mencapai kekuatan maksimal, biasanya pelaku diminta untuk menggali kuburan untuk mencuri potongan kain kafan orang yang meninggal pada hari-hari tertentu. Hari-hari yang dimaksud adalah harinya orang meninggal tersebut yang meninggal pada hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon.
Usai menjalani ritual pengambilan kain kafan, si pelaku akan memberikan kain tersebut kepada dukun untuk mengaktifkan kekuatan penglaris tersebut. Namun jangan dibayangkan lelaku atau ritual ini mudah, karena pencari penglaris yang semalaman di kuburan akan diperlihatkan berbagai macam penampakan pocong.
Dukun akan melakukan ritual dengan kain kafan curian selama 24 jam. Setelahnya, tanah kuburan dan kain kafan siap digunakan. Tanah kuburan disebarkan di sekitar tempat usaha sedangkan kain kafan disimpan dan digunakan setiap hari untuk direndam pada kuah masakan atau air minum yang akan disajikan kepada para pembeli.
Yang terjadi kemudian, pocong akan meludah serta meneteskan cairan yang ada di hidung pada setiap masakan serta minuman yang disajikan. Secara tak kasatmata, cairan ludah dan lendir hidung itu berbau busuk seperti mayat. Namun, orang biasa tidak bisa menciumnya, malah makanan dan minuman akan terasa lezat serta membuat ketagihan. Secara kesehatan mungkin juga tidak akan berpengaruh, karena cairan mayat tersebut bersifat gaib dan air yang terkena kain kafan bekas tersebut juga sudah direbus sehingga bakteri akan mati.
Namun, jika ada yang sedikit peka, maka dia akan merasakan mual, bahkan dengan penglihatan mata ketiga, wujud makanan tersebut kadang penuh belatung dan berbau busuk. Hal tersebut juga berpengaruh ketika makanan dibungkus atau dibawa pulang, karena pocong tidak akan bisa meludah sehingga rasanya tidak akan selezat ketika dimakan ditempat. Makanan yang dibawa pulang terkadang tidak akan bertahan lama dan akan terasa berair.
Mungkin dari pembaca bertanya-tanya, adakah ciri-ciri fisik rumah makan atau restoran yang menggunakan media pocong ini? Katanya, rumah makan atau restoran yang menggunakan media penglaris pocong, tempat usahanya nampak remang-remang seperti kurang pencahayaan, pengunjung ramai sampai rela mengantri lama-lama. Selain itu, di depan tempat makan itu ada pohon yang biasa digunakan pocong untuk istirahat setelah tempat makan tersebut tutup.
Untuk menghindari ludah pocong sebenarnya mudah, berdoa dulu sebelum makan bukan malah memfoto makanan.
Sumber: Buku “Kisah Tanah Jawa”




