Peta Rahasia dan Mata-mata: Kisah Perjalanan Cornelis de Houtman Membuka Jalan Imperialisme di Tanah Jawa

Posted on

Jauh sebelum kedatangan imperialisme Barat, diperkirakan bangsa Timur Tengah telah menjalin hubungan dan berinteraksi dengan suku Jawa, hal ini bisa dibuktikan dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti Persia.

Diyakini bahwa kedatangan bangsa Barat menuju Nusantara khususnya Jawa setelah Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Utsmani pada tahun 1453. Penguasa Turki saat itu, Sultan Mahmud II menutup akses pelabuhan Konstantinopel bagi orang-orang Eropa. Hal ini membuat orang-orang Eropa kemudian mencari informasi mengenai wilayah lain yang memiliki sumber daya alam melimpah seperti rempah-rempah.

Secara tidak sengaja mereka mendengar sebuah wilayah kepulauan yang alamnya sangat indah serta iklim yang bersahabat dengan sumber daya alam yang melimpah seperti karet, lada, dan rempah-rempah lainnya. Selain itu, mereka juga mencium adanya emas dan batu permata yang terkandung di dalam perut buminya.

Bangsa Portugis adalah kali pertama datang ke wilayah Nusantara. Pelaut-pelaut Portugis yang merupakan pelarian Templar berupaya merahasiakan peta yang memuat jalur laut menuju Asia Tenggara. Peta tersebut saat itu merupakan benda yang paling diburu oleh banyak raja dan saudagar-saudagar Eropa.

Hingga akhirnya pada tahun 1592, seorang Belanda bernama Cornelis De Houtman beserta saudaranya Frederik de Houtman dikirim oleh para pedagang Amsterdam menuju Lisboa (Ibu Kota Portugis). Tujuannya untuk mencari tahu tentang rute pelayaran dari Portugis ke Hindia Timur lewat Tanjung Harapan, dalam persiapan ekspedisi pertama Belanda ke wilayah penghasil rempah-rempah. Sempat bertahan selama dua tahun, mereka akhrinya tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara atas tuduhan kegiatan mata-mata. Pada awal tahun 1594, Cornelis dan Frederik dibebaskan setelah para pedagang Amsterdam menebusnya.

Sekembalinya Cornelis De Houtman ke Belanda, banyak informasi yang didapat mengenai rute pelarayan menuju Hindia Timur. Secara bersamaan seorang pedagang Belanda yang bekerja kepada Portugis yakni Jan Huygen van Linschoten juga kembali ke Belanda dengan membawa informasi yang sama. Bahkan Jan Huygen van Linschoten menuliskan semua informasi yang didapatnya dalam bentuk buku dengan judul “Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien”, yang berisikan mengenai pedoman perjalanan menuju ke Timur atau Hindia Portugis, termasuk memuat berbagai peta dan deskripsi detail mengenai jalur pelayaran yang dilakukan Portugis ke Hindia Timur, lengkap dengan segala permasalahannya.

Akhirnya Cornelis De Houtman dan Jan Huygen van Linschoten berkolaborasi melakukan ekpedisi menuju Hindia Timur. Mereka membuat kesepakatan serta mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, salah satunya memutuskan wilayah Banten sebagai tujuan utama. Hal tersebut tidak terlepas dari peran Banten sebagai pelabuhan rempah-rempah terkenal di ujung barat Pulau Jawa. Selain itu, letak geografis Banten dirasa aman dari gangguan Portugis yang menguasai jalur perdagangan Selat Malaka. Dengan kata lain, Belanda bisa menghindari Portugis melalui Samudra Hindia dan masuk lewat celah Selat Sunda.

Orang-orang Belanda pada waktu itu tidak sembarang melintasi samudera karena terkait akan Perjanjian Tordesillas yang dibuat oleh Paus Alexander VI tahun 1494. Paus Alexander VI membelah dunia di luar daratan Eropa menjadi dua wilayah untuk dianeksasi. Intinya Perjanjian Tordesillas membagi dunia ke dalam dua wilayah kekuasaan yang dibatasi oleh garis tordesillas yang membentang dari Kutub Utara ke Kutub Selatan melalui Kepulauan Verde di sebelah barat Benua Afrika. Spanyol diberi hak untuk melayari dan menguasai negeri-negeri di sebelah barat, sedangkan Portugis menguasai negeri-negeri di sebelah timur.

Pada tanggal 22 April 1529 kembali diadakan perjanjian yang dinamakan Perjanjian Saragosa. Perjanjian tersebut merupakan kelanjutan dari Perjanjian Tordesillas yang berisikan penjelasan mengenai wilayah kekuasaan Spanyol yang membentang dari Meksiko ke arah barat sampai kepulauan Filipina dan wilayah kekuasaan Portugis membentang dari Brasil ke arah timur sampai Kepulauan Maluku.

Pelayaran pertama Belanda dimulai pada 2 April 1595. Cornelis De Houtman yang memimpin pelayaran besar ini bertolak dari Amsterdam menuju Banten dengan menggunakan empat buah kapal ekspedisi yang dilengkapi dengan 64 pucuk meram (Amsterdam, Mauritius, Hollandia, dan Duyfken) bersama dengan 249 awak kapal. Pelayaran tersebut disponsori oleh serikat dagang Compagnie van Verre yang berdiri tahun 1594. Salah satu pendiri perserikatan saudagar Belanda tersebut adalah walikota Amsterdam.

Rombongan ekspedisi berhasil tiba di wilayah Banten pada 27 Juni 1596, setelah sebelumnya mereka mengalami banyak konflik internal akibat kurangnya pengalaman serta penguasaan medan. Kurangnya bahan makanan serta perbekalan membuat penyakit sariawan merebak, sempat menjadi pemicu terjadinya perkelahian dan pembunuhan antar awak kapal.

Sumber: Buku “Kisah Tanah Jawa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *