Ilmu Pelet adalah salah satu cabang ilmu gaib yang fungsinya untuk memengaruhi alam bawah sadar seseorang agar tertanam rasa cinta atau sayang yang mendalam kepada orang yang mengirim pelet. Pelet sifatnya lebih keras karena merusak hati dan logika korban, sehingga orang yang terkena pelet akan lupa diri bahkan gelap mata dalam mencintai. Ilmu pelet telah ada sejak zaman dahulu, tapi merebak ketika kemiskinan melanda masyarakat Jawaa di era kolonial. Pada perkembangannya, hingga saat ini pelet masih banyak digunakan meski dengan cara sembunyi-sembunyi.
Jaran Goyang
Pernahkah teman-teman mendengar lirik lagu berikut?
“Apa salah dan dosaku, Sayang. Cinta suciku kau buang-buang. Lihat jurus yang akan kuberikan, jaran goyang, jaran goyang.”
Jaran Goyang… apakah ini hanya sekedar judul lagu? Atau, sejatinya kata ini sebuah mantra yang sudah ada sejak lama?
Di masa sekarang, mungkin Jaran Goyang tidak ayal hanya dikenal sebagai sebuah judul lagu saja. Hanya beberapa orang yang mungkin memahaminya sebagai sebuah ajian mantra tingkat tinggi yang telah ada sejak zaman dulu. Ilmu ini memang diciptakan untuk menggaet lawan jenis yang dikehendaki.
Pada awalnya ajian ini diciptakan oleh pertapa sakti bernama Empu Ki Buyut Mangun Tapa, yang semasa masa tirakatnya menulis sebuah kitab yakni “Kitab Mantra Asmara”. Sebuah kumpulan tulisan berisikan ajian pelet, cara merawat badan, bahkan sampai ilmu keperawanan abadi tertulis di sana.
Salah satu ajian kemudian dikembangkan menjadi lebih dahsyat lagi oleh seorang perempuan muda bernama Nyai Sekarjagad Arumsari. Ajian ini diberi nama Jaran Goyang yang dikenal ampuh tiada lawan. Saking terkenalnya ajian ini, Nyai Sekarjagad Arumsari bahkan sampai dijuluki dengan Nini Pelet (jadi ingat salah satu sinema jaman dulu yang ada nama peran Nyi Pelet). Seorang wanita yang selalu tampak muda karena efek ilmu hitam yang ia kembangkan tadi, walaupun sebenarnya sudah makin tergerogoti usia. Di akhir hayatnya, Nini Pelet kembali ke wujud aslinya sebagai seorang wanita tua renta yang terkapar tak berdaya di umurnya yang diduga mencapai 120 tahun.
Ajian Jaran Goyang ini banyak digunakan oleh para wanita pribumi di masa kolonial guna menarik perhatian para meneer Belanda atau juragan lokal dengan maksud untuk mendapatkan kesejahteraan secara instan. Sang pelaku ajian ini, biasanya diharuskan mandi kembang tengah malam dan melakukan puasa selama 35 hari dimulai dari tanggal weton pelaku.
Setelahnya pelaku harus merapal mantra Jaran Goyang sebanyak 111 kali sembari menyebut nama target. Sampai pada akhirnya target akan mendadak luluh dan tergila-gila atau bahkan terbayang selalu di benaknya akan pesona pelaku. Dalam tahap ini, sebenarnya yang dipanggil adalah khodam si target. Metode dari ilmu ini adalah mengaktifkan siluman wanita berwajah kuda (atau sebaliknya tergantung jenis kelamin target). Siluman tadi akan menjadi perantara untuk terus-menerus memengaruhi korban (dengan cara meliukkan badan atau menari) hingga kehilangan kesadarannya dan memanggil khodam si target untuk menuruti semua apa yang dikehendaki oleh pemilik ajian Jaran Goyang.
Siluman perantara tadi juga mesti dimasukkan ke batu mustika, yang pada hari-hari tertentu harus diberikan minyak seperti minyak apel jin sebagai upah atau makanan agar dia tetap mau “bekerja”. Untuk sedikit penggambaran saja, mantra Jaran Goyang berbunyi seperti ini:
“Niyat ingsun amatek ajiku sijaran goyang. Tak goyang ing tengah latar, cemetiku sodo lanang upet-upetku lewe benang. Tak sabetake gunung jugrug watu gempur, ….(sensor)….sirep, tak sabetake atine si jabang bayi ….(nama calon target) Pet sidho edan ora edan sidho gendeng ora gendeng Ora mari mari yen ora ingsun sing nambani.”
Sumber: Buku “Kisah Tanah Jawa”




